Bahaya minum teh bagi ibu hamil
Teh memang segar dan sehat. Namun bagi wanita yang sedang hamil,
sebaiknya hati-hati mengonsumsi teh. Sebagaimana saran seorang ilmuwan
yang menyelesaikan penelitian terbarunya mengenai dampak teh bagi wanita
hamil.
Penelitian yang dilakukan oleh University of Alberta menemukan bahwa teh tidak selamanya sehat. Pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa banyak jenis teh yang mengandung konsentrasi timbal yang berbahaya, terutama untuk ibu hamil, ibu menyusui dan bayi.
Penasaran? Mari kita kupas tuntas.
Dalam
dosis kecil sekalipun, timbal memiliki dampak bagi anak dan janin yang
sedang tumbuh, karena dapat mempengaruhi sistem saraf. Para ilmuwan
menemukan bahwa konsentrasi timbal tertinggi ada dalam teh yang diseduh
selama 15 menit.
Beberapa teh yang diuji adalah teh yang berasal dari China, India dan Sri Lanka. Konsentrasi timbal tertinggi ditemukan dalam teh China.
Dengan hasil ini, para ilmuwan menyarankan agar ibu hamil dan menyusui mengurangi konsumsi teh atau minum teh hanya 1-2 cangkir setiap hari.
Banyak
wanita cenderung sering mengalami anemia selama kehamilan. Oleh karena
itu, mereka memerlukan jumlah tambahan zat besi selama periode
kehamilannya.
Tambahan zat besi bisa diperoleh melalui konsumsi makanan-makanan yang mengandung zat besi seperti daun singkong, pete, jengkol, alpukat, dan lain sebagainya. Namun, jika diiringi dengan konsumsi teh, maka zat besi tidak akan diperoleh.
Konsumsi teh pada ibu hamil, khususnya kehamilan pada trimester pertama dipercaya mampu membantu mengurangi rasa mual. Namun saat kehamilan menginjak trimester kedua dan ketiga, konsumsi teh harus mulai dikurangi.
Konsumsi teh yang berlebihan dapat menghalagi proses penyerapan zat besi karena kandungan tanin di dalamnya. Sementara zat besi sangat dibutuhkan dalam proses pembentukan sel darah merah.
Penyerapan zat besi sendiri oleh tubuh akan terhambat bila terlalu banyak mengkonsumsi teh. Meskipun banyak makan makanan sumber zat besi, akan sulit sembuh dari masalah anemia jika tetap minum teh setiap pagi.
Pada
trimester pertama, darah yang dibutuhkan memang belum begitu banyak,
sehingga konsumsi teh masih diperbolehkan. Begitu memasuki trimester
kedua dan ketiga, sebaiknya berhenti minum teh.
Selain teh, minuman lain yang tidak dianjurkan selama proses kehamilan adalah kafein. Konsumsi kafein selama kehamilan dapat meningkatkan risiko terhambatnya pertumbuhan janin dan keguguran.
Konsumsi
kafein dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil sehingga berisiko
mengalami dehidrasi, serta meningkatnya tekanan darah dan jantung.
Wanita yang sedang hamil membutuhkan berbagi macam gizi untuk menyuplai kebutuhan metabolisme tubuhnya dan juga janin dalam kandungannya.
Kalau terlalu banyak minum teh, maka zat tanin atau samak dalam teh dapat bersenyawa dengan zat besi dalam makanan yang dikonsumsinya. Maka kandungan gizi dalam makanan tidak diserap oleh tubuh.
Kondisi
anemia yang terus berlanjut karena konsumsi teh selama kehamilan
menyebabkan transportasi nutrisi dari ibu hamil ke janinnya menjadi
terhambat.
Janin akan tumbuh lambat sehingga berat badan serta kekebalan tubuhnya melemah dan setelah dilahirkan mungkin akan lahir prematur.
Transportasi
nutrisi dari ibu hamil ke janin akibat anemia pada beberapa kasus dapat
menyebabkan kematian janin di dalam kandungan. Kondisi yang cukup
menakutkan dan berisiko bagi ibu hamil.
Tidur nyenyak dan istirahat yang cukup adalah satu unsur yang perlu dilengkapi untuk menjaga kehamilan tetap sehat.
Jika terlalu banyak mengkonsumsi teh, sama artinya dengan memasukan kafein ke dalam tubuh. Kafein sendiri selain dapat mengatasi morning sickness, juga menyebabkan susah tidur di malam hari (insomnia).
Penelitian yang dilakukan oleh University of Alberta menemukan bahwa teh tidak selamanya sehat. Pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa banyak jenis teh yang mengandung konsentrasi timbal yang berbahaya, terutama untuk ibu hamil, ibu menyusui dan bayi.
Penasaran? Mari kita kupas tuntas.
Beberapa teh yang diuji adalah teh yang berasal dari China, India dan Sri Lanka. Konsentrasi timbal tertinggi ditemukan dalam teh China.
Dengan hasil ini, para ilmuwan menyarankan agar ibu hamil dan menyusui mengurangi konsumsi teh atau minum teh hanya 1-2 cangkir setiap hari.
Tambahan zat besi bisa diperoleh melalui konsumsi makanan-makanan yang mengandung zat besi seperti daun singkong, pete, jengkol, alpukat, dan lain sebagainya. Namun, jika diiringi dengan konsumsi teh, maka zat besi tidak akan diperoleh.
Konsumsi teh pada ibu hamil, khususnya kehamilan pada trimester pertama dipercaya mampu membantu mengurangi rasa mual. Namun saat kehamilan menginjak trimester kedua dan ketiga, konsumsi teh harus mulai dikurangi.
Konsumsi teh yang berlebihan dapat menghalagi proses penyerapan zat besi karena kandungan tanin di dalamnya. Sementara zat besi sangat dibutuhkan dalam proses pembentukan sel darah merah.
Penyerapan zat besi sendiri oleh tubuh akan terhambat bila terlalu banyak mengkonsumsi teh. Meskipun banyak makan makanan sumber zat besi, akan sulit sembuh dari masalah anemia jika tetap minum teh setiap pagi.
Selain teh, minuman lain yang tidak dianjurkan selama proses kehamilan adalah kafein. Konsumsi kafein selama kehamilan dapat meningkatkan risiko terhambatnya pertumbuhan janin dan keguguran.
Wanita yang sedang hamil membutuhkan berbagi macam gizi untuk menyuplai kebutuhan metabolisme tubuhnya dan juga janin dalam kandungannya.
Kalau terlalu banyak minum teh, maka zat tanin atau samak dalam teh dapat bersenyawa dengan zat besi dalam makanan yang dikonsumsinya. Maka kandungan gizi dalam makanan tidak diserap oleh tubuh.
Janin akan tumbuh lambat sehingga berat badan serta kekebalan tubuhnya melemah dan setelah dilahirkan mungkin akan lahir prematur.
Jika terlalu banyak mengkonsumsi teh, sama artinya dengan memasukan kafein ke dalam tubuh. Kafein sendiri selain dapat mengatasi morning sickness, juga menyebabkan susah tidur di malam hari (insomnia).
Komentar
Posting Komentar